Berkenalan Lebih Jauh dengan Lupus Si Penyakit 1000 Wajah
Discover.News - Tanggal 10 Mei diperingati sebagai hari Lupus sedunia. Meningkatnya angka penderita Lupus pada wanita membuat para pemerhati kesehatan mengadakan peringatan pada tanggal tersebut. Seperti instagram @halodoc yang mengadakan live talks pada hari Jum’at (13/5) bersama dr. Sandra Sinthya Langow Sp. PD-KR. Seorang dokter spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Reumatologi di Rumah Sakit Siloam Lippo Village.
Dalam acara tersebut dr. Sandra menerangkan bahwa lupus merupakan salah satu jenis penyakit yang termasuk kedalam autoimun khususnya Reumatologis autoimun. Autoimun adalah penyakit yang terjadi karena kesalahan sistem imun dalam bekerja. Sistem imun tubuh manusia yang berfungsi baik adalah dengan melawan bakteri dan virus agar tidak jatuh sakit. Tetapi dalam kondisi autoimun tubuh manusia justru dianggap sebagai lawan dan justru diserang oleh sistem imun kita sendiri.
Lupus dikenal sebagai penyakit seribu wajah karena penampilannya sangat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain dalam hal berat atau ringannya kondisi lupus seseorang.
Ada orang yang terkena lupus sangat ringan ada pula orang yang terkena lupus sangat berat hingga bisa mengancam nyawa. Organ yang terkena penyakit ini juga berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya.
"Jadi misalnya ada orang A nanti yang terkena adalah sistem darah atau sistem hematologi, HB nya rendah, trombositnya rendah. Namun ada lupus yang lain yang terkena adalah ginjal ataupun sistem saraf. Jadi penampakan lupus bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain," jelas dr. Sandra.
Para ahli menggolongkan lupus kedalam 4 jenis. Pertama adalah systemic lupus erythematosus yang biasa dikenal pada umumnya. Sistemik artinya dia bisa mengenai seluruh atau organ tubuh. Kedua adalah sub-acute cutaneous lupus erythematosus yaitu lupus yang spesifik hanya mengenai kulit dan tidak mengenai organ yang lain. Gejala pada lupus jenis ini dominan terjadi pada kulit dan nyeri sendi.
Ketiga adalah drug-induced lupus yaitu lupus yang terjadi karena dipicu pemakaian obat tertentu. Tetapi jika penggunaan obat tersebut dihentikan, lupus bisa berangsur membaik. Lupus jenis keempat agak jarang ditemui yaitu neonatal lupus. Lupus ini terjadi pada bayi yang baru lahir atau anak kecil yang disebabkan karena ibunya mengalami lupus saat kehamilan.
Cutaneous lupus atau lupus kulit adalah jenis lupus yang paling terlihat. Orang yang mengalami Lupus jenis ini biasanya mengalami benjolan pada kulit, dan butterfly effect yaitu bercak kemerahan di pipi dan membentuk seperti kupu-kupu. Tetapi kulit bagian tubuh lain juga bisa terkena.
Sejauh ini belum ada penelitian yang menemukan secara pasti apa faktor yang menyebabkan lupus karena penyakit jenis ini termasuk kedalam autoimun. Tetapi para ahli membuat beberapa teori untuk menjelaskan terjadinya lupus.
Faktor genetik adalah hal yang paling penting yang bisa menyebabkan lupus pada seseorang. Faktor genetik ini akan semakin kuat bila didukung faktor lingkungan seperti hormonal, estrogen, paparan sinar matahari, bahan kimia, kekurangan vitamin D, pasca infeksi virus dan bakteri, merokok, dan obesitas.
Dalam acara tersebut dr. Sandra juga menyebutkan bahwa orang yang menderita penyakit autoimun seperti lupus sebagian besarnya adalah penyakit kronis. Penyakit kronis ini tidak bisa sembuh tetapi tujuan pengobatannya adalah tercapainya kondisi stabil dalam pengobatan.
"Memang penyakit jenis ini tidak bisa sembuh sempurna. Namun bisa distabilkan sehingga tetap bisa mendapatkan kualitas hidup yang baik," terang dr. Sandra.
Dokter Sandra juga menjelaskan bahwa penanganan pasien yang mengalami kondisi Lupus termasuk gampang-gampang susah. Masalah pertamanya adalah keterlambatan diagnosis karena gejala yang ditunjukkan menyerupai penyakit lain dan berbeda-beda setiap orangnya. Padahal kunci utama dalam pengobatan pada penyakit lupus adalah early diagnosis atau mengenali gejala-gejala sejak awal.
Dokter Sandra berpesan bahwa kelompok orang yang banyak terkena lupus adalah wanita muda usia produktif yaitu 15 - 40 tahun. Bagi wanita pada usia tersebut jika mengalami gejala-gejala awal lupus seperti nyeri sendi yang berkepanjangan, rambut rontok, sariawan berulang, bercak kulit di pipi harus segera memeriksakannya ke dokter. Jika sudah terdiagnosis sejak dini, pengobatan lupus bisa sangat mudah dan sederhana serta bisa melakukan pencegahan komplikasi serta kerusakan organ.
Ketika lupus terlambat terdiagnosis gejala yang dialami penyakit ini bisa lebih berat dan berdampak pada kerusakan organ tubuh. Seluruh organ tubuh bisa terserang penyakit ini tetapi terdapat beberapa organ "favorit" yang diserang oleh lupus seperti ginjal atau biasa disebut lupus nefritis, otak yang menyebabkan gangguan kesadaran atau kejang. Paru-paru dan Jantung juga bisa terdampak oleh lupus.
Pengobatan pasien lupus sangat tergantung pada kapan pasien tersebut diobati, apakah pada saat kondisi lupus masih ringan atau sudah berat. Ketika kondisi lupus yang dialami sudah berat maka akan sangat sulit untuk kembali seperti semula.
"Saya ambil contoh misalnya ada pasien yang mengalami lupus nefritis dan mengalami kebocoran protein pada ginjalnya tetapi secara keseluruhan masih bisa berfungsi dengan baik. Maka ini masih bisa diusahakan agar fungsi ginjal kembali seperti semula. Tetapi ketika pasien tersebut datang sudah mengalami kondisi gagal ginjal tentu sangat sulit mengembalikan kondisi semula," terang dr. Sandra.
Penegakan diagnosa lupus melalui metode yang cukup panjang. Penentuan tersebut dimulai dari saat ada keluhan, seperti seorang wanita yang datang ke dokter dengan gejala-gejala lupus. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan laboratorium tambahan dengan melakukan tes antibodi tertentu. Lalu dokter akan menyimpulkan berdasarkan pada pemeriksaan fisik, wawancara pasien, dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Pencegahan lupus pada orang-orang tertentu yang memiliki kecenderungan genetik bisa dengan memodifikasi faktor lingkungan seperti mengurangi terkena paparan sinar matahari, menjaga berat badan ideal, menjaga asupan vitamin D, menghindari infeksi virus dan bakteri, serta menghindari merokok.
Terakhir dr. Sandra berpesan bagi para pejuang lupus bahwa Lupus bukan akhir dari dunia dan dengan kemajuan teknologi saat ini pasti kondisi kestabilan kesehatan bisa tercapai. (Malikhatun)
Tidak ada komentar