Kantin Mbok Jum, Cita Rasa Juara Sejak Dulu Kala
| (Dok. Falah) |
Ketika lidah sudah pernah mengecap lezatnya sepiring makanan, maka pikiran tak akan pernah sudi melupakannya sampai kapan pun. Itulah mengapa berbagai jenis kuliner bisa menjadi legendaris, apalagi jika kuliner legendaris yang telah lahir puluhan tahun lalu tersebut masih bisa dinikmati hingga saat ini.
Kantin Mbok Jum adalah salah satu warung makan yang melegenda dan masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Kantin Mbok Jum yang telah ada sejak tahun 1979 ini berada di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Salah satu menu andalannya adalah nasi hangat yang dihidangkan bersama pecel berisi helaian daun kangkung, bayam, potongan kacang panjang, tauge, dan disiram dengan sambal kacang. Lauk yang variatif juga tersedia untuk melengkapi menu makanan di kantin Mbok Jum, seperti gudeg, telur balado, telur dadar, telur bacem, ayam sayur, sate usus, sambal goreng hingga kerupuk rambak. Selain itu, terdapat tiga buah piring besar yang berisi tempe goreng, tahu goreng dan bakwan goreng menghiasi meja makan.
Harga yang ditaksir pun masih tergolong murah, satu porsi nasi pecel dibanderol Rp 5.000, satu porsi nasi gudeg dibanderol Rp 5000, berbagai macam gorengan dengan harga Rp 500, dan aneka minuman mulai dari es teh manis, kopi, dan minuman sachetan. Namun, kantin Mbok Jum tidak mematok harga pada menu makanannya, para pelanggan diperbolehkan membeli dengan harga lebih murah dengan porsi lebih sedikit. Semua bahan makanan yang digunakan pun masih fresh karena didapatkan dari pasar setiap paginya dan langsung dimasak. “Kita kalo belanja ke pasar berangkatnya itu pagi-pagi sekali biar bisa milih sayurannya” ujar mbah Parni.
Mbah Parni (65) merupakan salah satu pegawai yang bekerja di kantin Mbok Jum, beliau telah bekerja di kantin ini sejak 35 tahun yang lalu. Beliau dijuluki “Ratunya UNS” oleh para penikmat makanan kantin Mbok Jum karena sudah sangat lama bekerja di kantin ini juga sifatnya yang masih sama sejak jaman dahulu yaitu ceria dan galak. “Banyak orang yang suka bercandai saya, bilangnya mbah Parni awet tenan, ketawanya awet galaknya juga awet” canda mbah Parni.
Bangunan dan suasana kantin Mbok Jum tidak berubah sejak dahulu. Namun sekarang, kantin ini memiliki wajah baru yang bernuansa lebih modern dan estetik. “Ini memang belum lama di cat, yang mengecat itu mas Ardan, alumni Fakultas Sastra dahulu” tutur Mbah Parni. Menurut Mbah Parni, dulunya kantin Mbok Jum adalah warung makan yang melayani pekerja yang sedang membangun gedung akademik di UNS.
| (Dok. Facebook.com) |
Sayangnya, Jumiyati atau biasa dikenal Mbok Jum yang merupakan pendiri dari kantin ini sudah berpulang pada 2019 lalu dan kantin Mbok Jum pun dilanjutkan oleh saudaranya, Bu Ribut. Namun begitu, kantin Mbok Jum tetap menjadi tempat yang legendaris bagi para mahasiswa maupun alumni UNS.
Menjadi kantin legendaris menjadikan kantin ini tak henti-hentinya dibicarakan oleh para pengunjung. Termasuk para pengguna sosial media yang merupakan alumni UNS, salah satu cuitan di postingan Facebook @Tonin mengenai kantin Mbok Jum contohnya. Menurut akun @AgungBudiharjo, “Mbok Jum adalah sosok yang fenomenal bagi kita, bahkan hingga banyak mahasiswa menuliskan kata-kata terima kasih di bagian kata pengantar skripsinya”.
Selain itu banyak mahasiswa yang merasa tertolong ketika kehabisan uang di akhir bulan karena harga nasi pecelnya yang tergolong murah. Sama halnya dengan akun @ChicoBoemigaizka yang bercerita di sebuah postingan akun Facebook Universitas Sebelas Maret tentang kenangannya di kantin Mbok Jum.
“Dulu waktu kuliah sering banget mampir ke kantin sastra buat sarapan pecel dan telur setengah matengnya Mbok Jum, bahkan kalo nunggu jeda jam kuliah nongkrongnya disana, bolosnya juga disana. Sering juga dikasih es teh gratis sama Mbok Jum” kenangnya.
Ketika tim CipIcip mendatangi kantin Mbok Jum pada Senin 20/9, kondisi kantin Mbok Jum sangatlah ramai karena sedang jam makan siang, ketika memasuki kantin ini kita akan disambut oleh deretan meja dan kursi kayu yang tersusun rapi, terdapat beberapa karyawan UNS dan mahasiswa yang sedang menyantap makanannya sambil bercanda gurau.
Salah satunya adalah Reyno, mahasiswa dari Fakultas Teknik ini menyantap nasi dan ayam sayur sebagai makan siangnya. “Saya kalau kesini biasanya pesan nasi ayam sayur, telur dadar sama minumnya es teh” ucapnya. Selain itu lokasi kantin Mbok Jum dikelilingi oleh pohon besar sehingga hawa di kantin ini terasa sejuk. “Tempatnya lumayan nyaman dan adem, jadi tadi sehabis makan saya sambil nyicil skripsi” tutur Reyno sambil menyiapkan laptopnya.
Selain menjadi tempat yang nyaman untuk makan siang, terdapat juga pengunjung yang datang untuk mengingat kembali masa nostalgia ketika berkuliah di UNS dulu. Salah satunya adalah Arifatul Hidayat yang merupakan seorang karyawan di Fakultas Teknik UNS.
Ia bercerita bahwa selain menjadi tempat nongkrong, pada zaman dahulu kantin Mbok Jum juga menjadi ruang untuk menjalin relasi pertemanan dengan orang lain dan menjadi suatu tempat untuk mewujudkan kreativitas mahasiswa. “Misalnya ada pertandingan 3 on 3 basket, nanti ngumpulnya disini terus kita dukung jadi supporter. Kadang juga ada pertunjukan musik dan komedi disini” ujarnya.
Ia juga bercerita bahwa atmosfer di kantin Mbok Jum sangatlah hangat karena sejak jaman dahulu pelayanan kantin ini sangat ramah. Ia bercerita ketika masih menjadi mahasiswa, ia sering kali datang ke kantin Mbok Jum untuk sekedar sarapan, ia selalu disambut dengan ramah oleh Mbok Jum.
“Dulu kalau datang kesini pasti selalu ditanyain sama Mbok Jum, contohnya seperti menanyakan bagaimana kuliah hari ini? Kok nggak ngajak temennya kesini” kenangnya. Keramahan dan perhatian seperti itu yang membuatnya memiliki keterikatan emosional dengan kantin Mbok Jum dan merasa memiliki keluarga disini.
Kami juga mewawancarai Wahyu Susilo, merupakan alumni Fakultas Sastra tahun 1994 dan seorang aktivis LSM melalui telepon. Ia bercerita mengenai kenangan berkesannya selama masih menjadi mahasiswa dahulu, “Dulu di kantin Mbok Jum sering jadi tempat untuk rapat persiapan demo atau rapat pers mahasiswa” kenangnya.
Selain makanannya yang murah, Mbok Jum juga terkenal akan kebaikannya kepada mahasiswa. “Mbok Jum itu sering ngasih sarapan gratis buat mahasiswa yang mau, dia juga nggak tega liat mahasiswa kelaparan nggak punya duit”, ujarnya sambil tertawa kecil.
Tidak ada komentar